Cerita Mahasiswa 9 Negara Viralkan Wisata Heritage Lasem

Fam Trip Jateng On The Spot 2019

0 155

REMBANG, generasipiknik.com – Kota Lasem di Kabupaten Rembang Jawa Tengah menarik mahasiswa dari sembilan negara untuk mengeksplore lebih. Mereka menyambangi berbagai tempat sejarah yang ada di Lasem.

Klenteng tertua di Jawa Tengah Klenteng Cu An Kiong Lasem

Kedatangan mereka rupanya ingin memviralkan potensi pariwisata pada akun media sosial mereka. Berharap Lasem sebagai ‘Little China’ makin dikenal oleh masyarakat dunia lewat jejak peninggalan sejarah yang masih terawat baik.

Marta Fafrowicz (24), mahasiswi pertukaran budaya asal Polandia tampak kagum melihat setiap sudut Klenteng Cu An Kiong, Lasem Rembang, Sabtu (20/4/2019).

Mahasiswi asing mengeksplore Klenteng Cu An Kiong Lasem

Sesekali, dia mengabadikan beberapa ornamen di klenteng tertua di Jawa itu dengan gadget miliknya. Sedetik kemudian, meng-upload dan memposting di akun media sosialnya. Meski kuno dan bersejarah, tempat tersebut begitu Instagramble.

Dia mengaku heran, bangunan heritage di Jateng masih dirawat dengan apik. Klenteng yang dibangun sekitar abad 16, masih bisa dinikmati wisatawan dan digunakan untuk ibadah.

Bagian sejarah Klenteng Cu An Kiong yang penuh lukisan filosofi Tionghoa

“Saya kagum, bangunannya masih bagus. Ternyata ada banyak bangunan sejarah di Jawa Tengah,” ucapnya.

Dia bersama 9 mahasiswa Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques et Commerciales (AIESEC) Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes), juga mendapatkan cerita kelenteng tersebut dari sejarahwan, Erwantoro.

Kunjungan mahasiswa AIESEC tersebut merupakan bagian dari rangkaian Jateng on the Spot 2019 besutan Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Jateng. Dari Klenteng Cu An Kiong, mereka bergeser ke Lawang Ombo (Rumah Candu), dan Rumah Merah yang masih di bilangan Lasem.

Bagian tengah rumah Candu Lasem tempat berkumpul keluarga kala itu

Di Rumah Candu, masih dengan bangunan kuno syarat sejarah. Saksi bisu perjuangan kemerdekaan dalam melawan penjajah Belanda antara warga pribumi yang bersatu dengan kaum Tionghoa, dipimpin oleh Kapten Lim.

Di rumah itu bisa dilihat sisa sejarah seperti jangkar laut milik Kapten Lim sebagai pelaut ulung pada jamannya yang singgah di Lasem.

Lorong Candu di Rumah Candu Lasem akses dalam mengangkut candu saat perang penjajahan

Ada juga sebuah lorong candu, dimana lubang berdiameter 1 meter sebagai akses menuju sungai sepanjang 300 meter, melalui lorong-lorong sebagai jalan dalam mengangkut candu atau opium Belanda dalam merusak kaum pribumi dengan candu itu.

Selain itu, mengubungi Rumah Merah, sebuah komplek bangunan tua yang disulap menjadi pusat workshop batik Tiga Negeri (Lasem, Solo, dan Pekalongan). Ikon rumah merah sendiri dikenal pada sebuah ruangan terbuka di tengah bangunan yang dicat berwarna merah, ada tempat duduk, sumur, serta berbagai peralatan seni Tionghoa.

Ikon dadi Rumah Merah, ruangan terbuka yang dicat merah

Tempat itu juga sangat instagramable dengan menjadi ikon spot untuk berfoto. Di Rumah Merah bisa belajar membatik sekaligus berbelanja batik tulis khas Lasem.

Mereka juga diajak mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Rembang. Seperti Pantai Karangjahe dan hutan mangrove. Malam harinya, menghadiri Kirab Pataka Gelaran Event Gema Kartini.

Bermain ATV mengeliling Pantai Karangjahe Lasem Remnbang

Kepala Disporapar Jateng, Sinoeng N Rachmadi menjelaskan, pihaknya sengaja mengajak mahasiswa dari luar negeri untuk menikmati sejumlah destinasi wisata di Jateng. Mereka berasal dari 8 negara, yakni Libya, Polandia, India, Turkmenistan, Kyrgyzstan, Thailand, Rusia, Burundi, dan Tanzania.

“Rangkaian Jateng on the Spot 2019 ini berlangsung tiga hari. Hari ini di Rembang karena kebetulan malam hari ada Kirab Pataka untuk memeringati Hari Kartini. Besok (21/4/2019), kami ajak mereka ke Pati, dan besoknya lagi ke Kudus,” ucapnya.

Dia berharap para mahasiswa bisa mengunggah foto-foto kemolekan wisata Jateng selama melancong di media sosial masing-masing. Tentu dengan bumbu-bumbu cerita dan pengalaman agar lebih menarik.

“Nanti, teman-teman dan saudara-saudara mereka akan melihat bagaimana keseruan dan keindahan wisata di Jateng. Kami berharap, ini bisa menarik minat wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Jateng,” harapnya. (win)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.