Perjalanan Sejarah Bakmi Jawa, Kuliner Peranakan Tionghoa Yang Naik Kelas di Semarang

0 218

SEMARANG, generasipiknik.com – Bakmi Jawa, kuliner dengan bahan dasar mie dengan guyuran kuah atau bumbu goreng yang menggugah selera rupanya bukanlah murni kuliner asli Jawa. Nama Jawa pada bakmi, populer karena memang banyak ditemui di sepanjang jalanan Kota Semarang. Bakmi Jawa juga populer disebut ‘Mie Jowo’.

Bakmi Jawa diketahui sebagai salah satu kuliner peranakan Tionghoa. Sejarahnya, Semarang sebagai pintu masuk para saudagar Cina tempo dulu dalam menjalin hubungan dagang dan politik dengan Kerajaan Mataram Kuno.

“Saat itu pedagang Cina mengenalkan makanan jenis mie ini kepada masyarakat lokal,” kata sejarahwan Tionghoa Semarang, Jongkie Tio, saat ditemui di kediamannya Jalan Gajahmada Semarang Jawa Tengah.

“Ada 75 persen kuliner Jawa dan Semarang adalah kuliner peranakan, termasuk Bakmi Jawa, berbahan dasar mie merupakan asli kuliner dari Tionghoa,” lanjutnya.

Menurut Jongkie Tio, kuliner Bakmie Jawa populer hingga terkenal sampai sekarang dimulai pada tahun 1991. Dahulu kata pria peranakan 78 tahun itu, Bakmie Jawa sudah pernah ada hanya saja terbatas di perkampungan Kota Semarang.

Belum menjadi primadona kuliner di hotel atau menjadi menu sajian para pejabat tatkala ada acara kebesaran atau menu di pesta perkawinan di Semarang.

“Bakmie Jawa itu hasil akulturasi budaya mau itu bihun jawa atau cap cay,” lanjutnya.

Pemilik Restoran Semarang Heritage itu berkisah, sebagai pegiat kuliner daerah dia mengadakan kurasi menu khas Semarangan. Hasilnya, Bakmi Jawa dia pilih. Dia gelar sebuah pameran kuliner perkampungan selama tiga hari pada tahun 1991.

Ia menambahkan, dahulu masakan kampung dianggap kurang memiliki nilai strata yang lebih tinggi terutama bagi kalangan orang kaya dan berpengaruh ketika itu enggan mencoba.

“Walikota Semarang ketika itu Soetrisno Suharto mencanangkan adanya wisata kuliner khas Semarang. Sejak itu barulah hotel-hotel mengadaptasi makanan kampung sampai sekarang, termasuk Bakmi Jawa itu,” kisahnya.

Alhasil, saat ini banyak penjual Bakmi Jawa baik di restoran atau dengan gerobak ramai disambangi penikmat kuliner aneka jenis strata sosial.

“Sekarang masyarakat kelas bawah hingga pejabat tidak malu menikmati kuliner Bakmi Jawa meski itu pakai gerobak atau tenda pinggiran,” tuturnya.

Lantas apa yang spesial dari rasa Bakmi Jawa? Jongkie menyebut bumbu adalah kuncinya. Identitas pembeda antara bakmi olahan restoran Tionghoa dengan Jawa begitu pula bakmi Eropa.

“Cuma perbedaan spesifik dengan sekarang hanya ada penambahan aneka bumbu yang lebih gurih serta telur. Jaman dulu cukup mie berserta kuah garam dan kecap,” katanya.

Untuk lebih mempertajam rasa, saat ini tambahan kecap, serta bawang goreng. Tak ketinggalan kepekatan bumbu olahan minyak yang pekat menjadi ciri khasnya.

Ciri khas lainnya yakni bentuk mie yang panjang-panjang tanpa terpotong, menurut Jongkie itu bagian dari filosofi Cina, agar harapan tidak putus termasuk banyak rejeki. Ciri lain lanjut dia, penyajian diatas bakmie siap saji beralaskan daun pisang pengganti piring.

“Bagi kalangan peranakan Tionghoa Bakmi Jawa terdapat nilai akulturasi tinggi dengan orang Jawa. Mie yang tak terpotong dan saling mengikat simbol persatuan,” ucapnya.

Saat ini Bakmi Jawa banyak ditemui wilayah Kota Semarang. Hanya saja berdasarkan penelitiannya banyak di temui di kawasan Mataram atau sekarang dikenal dengan Jalan MT Haryono.

“Disana dulu ada orang Jawa paling kaya namanya Tasripin. Nah, sepanjang kawasan itu banyak penjual Bakmi Jawa, tapi sekarang sudah menyebar sampai pelosok kampung juga banyak,” katanya. (win)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.