Warna-warni Parade 105 Balon Udara Batik di Langit Pekalongan

0 181

PEKALONGAN, generasipinik.com – Jika tahun sebelumnya hanya diikuti 38 peserta, kali ini Java Balon Festival 2019 diikuti 105 peserta yang menambatkan balon udaranya di Stadion Hoegeng Pekalongan, Rabu (12/6/2019).

Tradisi syawalan di Kota Pekalongan itu menyedot ribuan pengunjung. 105 balon udara tersebut ditambatkan di dalam Stadion Hoegeng Pekalongan.

Yang membuat menarik, selain menampilkan ciri khas Pekalongan dengan batiknya, balon udara yang diterbangkan hadir dengan berbagai model bahkan ada peserta yang sengaja membuat model bus.

Tiap-tiap balon udara itu memiliki pemiliknya, dan saat dilakukan penerbangan sebuah tim akan menerbangkan secara sorak sorai oleh para suporter. Mereka juga mengenakan kostum identitas sebagai pemilik balon udara yang diterbangkan.

Pada tahun awal dilaksanakan festival tersebut pada 2018, gaung balon tambat memang belum moncer dan menarik minat masyarakat. Untuk itu AirNav memutuskan untuk memberi stimulan. Jajaran pemerintah dilibatkan, hadiah disiapkan dan masyarakat dikumpulkan.

Pada festival kali ini disediakan oleh panitia berupa hadiah total Rp 70 juta, paket umrah, tiket pesawat, dan beragam door prize lainnya.

Hari Sulistyo, salah satu peserta peserta Festival Java Balon 2019 mengaku event tahun ini lebih meriah. Selain banyaknya balon udara juga kreasi yang unik dari para peserta.

“Balonnya sudah diterbangkan sejak pukul lima pagi tadi, semoga bisa dapat hadiah karena banyak sekali hadiahnya,” kata Hari, yang membawa 10 kawan dalam timnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang membuka acara mengajak masyarakat Pekalongan untuk lebih kreatif dan memastikan penerbangan balon udara aman bagi dunia penerbangan pesawat udara.

“Ini ada destinasi wisata baru di kota Pekalongan. Karena semua balonnya menarik, kreasinya bagus-bagus dengan ciri khas Pekalongan,” kata Ganjar.

Selain di Pekalongan, Ganjar menyebut festival serupa juga ada di Wonosobo. Tradisi syawalan seperti itu dinilai mampu memajukan sektor pariwisata daerah.

Acara tersebut merupakan hasil rembugan antara Ganjar dengan Menteri Perhubungan. Pelaksanaan dibuat seaman mungkin agar tidak menggangu penerbangan pesawat udara.

Bahkan karena menjadi tradisi, di awal-awal pelaksanan khususnya di Kota Pekalongan dan di Wonosobo. Ada balon terbang yang sengaja diberi petasan untuk menarik perhatian.

“Di satu sisi penerbangan balon itu sebagai tradisi, namun di sisi lain balon yang terbang itu membahayakan penerbangan. Bahkan petasan yang ditaruh itu juga membahayakan. Karena pernah ada kejadian petasannya menggunakan gas tabung, membahayakan yang di bawah bahkan pernah menimbulkan kebakaran,” katanya.

Karena ada sisi yang membahayakan penerbangan, AirNav segera mengambil langkah cepat. Namun tidak serta merta menghapus tradisi tersebut.

Direktur Utama AirNav, Novie Riyanto Rahardjo mengatakan kompromi yang dilakukan akhirnya balon tetap diterbangkan namun tidak diliarkan, tetap ditambat di tanah. Hal itu sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 40 Tahun 2018 tantang penggunaan balon udara pada kegiatan budaya masyarakat.

“Oleh karena, kami memfasilitasi masyarakat Pekalongan dengan menggelar Festival Balon tambat (tali). Tradisi tetap berjalan namun penerbangan tetap aman,” katanya. (win)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.