Eksplore Dataran Tinggi Karanganyar, Dari Candi Cetho, Rumah Atsiri Sampai Makam Soeharto

0 262

SOLO, generasipiknik.com – Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Jawa Tengah mengenalkan destinasi wisata di Karanganyar kepada para pelaku pariwisata yang tergabung dalam Assosiation of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) dan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Jawa Timur, Selasa (26/2/2019).

Bertema Fam Trip Jawa Tengah On The Spot 2019, kali ini dikenalkan potensi wisata alam dan sejarah yang ada di dataran tinggi Karanganyar. Mereka diajak langsung melihat peninggalan sejarah sisa kerajaan Majapahit berupa Candi Cetho.

Gapura dan komplek teras Candi Cetho Karanganyar

Candi Cetho merupakan candi Hindu, berada di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar, memiliki karakteristik berbeda dengan candi Hindu lainnya. Sebagai tempat ibadah yang masih aktif dipakai, di sini pengunjung dikenalkan bangunan punden berteras yang mirip dengan bangunan masa prasejarah seperti pada masa Suku Maya dan Inca di Meksiko.

Memasuki komplek candi di bawah kaki Gunung Lawu ini, pengunjung akan diberikan selembar kain kotak-kotak untuk diselempangkan pada bagian bawah tubuh. Hal ini sebagai penghormatan jika Candi Cetho masih aktif digunakan sebagi tempat ibadah.

Memasuki gerbang, akan dijumpai dua gapura besar mirip candi Hindu di Bali. Mengabadikan moment berfoto di sini wajib, karena berlatar pegunungan di bawahnya yang mirip berada di negeri atas awan.

Gapura memasuki punden puncak Candi Cetho Karanganyar

Memasuki halaman dalam, sebagai tempat pemujaan, candi ini berfungsi untuk ibadah ruwatan dan hari besar umat Hindu. Di sini juga tersisa arca simbol penggambaran phallus dan vagina, yang terpampang pada arca batuan yang ada di halaman tengah candi.

Banyak yang menilai secara kasat mata jika Candi Cetho mengungkap vulgaritas. Namun sejatinya, pengunjung disini dibawa untuk menafsirkan sebagai lubang penciptaan atau kelahiran kembali setelah dibebaskan dari kutukan.

Memasuki halaman lebih dalam, akan menaiki teras dengan dijumpai cungkub pemujaan, dan pendopo peristirahatan. Hingga sampai puncaknya, berupa punden berbentuk kotak limas, bangunan ini yang dikenal mirip bangunan prasejarah itu.

Cungkub pemujaan di komplek Candi Cetho Karanganyar

Menikmati suasana puncak Candi Cetho, semilir udara sejuk dengan pemandangan kebun teh dan areal ladang sayur menjadi keistimewaan di sini. Singgah lah beberapa waktu untuk menikmati itu semua.

Puas berada di Candi Cetho, rombongan ASITA dan ASPPI Jatim diajak menuju Air Terjun Jumog, loakasinya berada di bawah Candi Cetho, berupa aliran mata air yang jatuh dari ketinggian 50 meter. Dengan air yang jernih dan sejuk serta jalan yang asri sangat memanjakan pemandangan mata dan raga selama susur aliran air anak sungai sampai menuju lokasi air terjun Jumog.

Segarnya udara dan pandangan air terjun Jumog

Di lokasi air terjun Jumog, pengunjung bisa menikmati buah-buahan milik warga seperti jambu kristal dan alpokat.

Masih di dataran tinggi, selanjutnya rombongan menuju wisata edukasi Museum Rumah Atsiri Indonesia. Merupakan bangunan bersejarah peninggalan Presiden Soekarno, berupa pabrik destilasi (penyulingan) minyak Atsiri yang didirikan pada tahun 1963.

Salah satu gedung tua Rumah Atsiri Indonesia

Pendirian pabrik itu untuk menyuplai kebutuhan atsiri khusus kepada negara Bulgaria oleh Soekarno pada waktu itu. Untuk kebutuhan bahan baku farmasi, rempah serta parfum kelas elit. Bahkan Bulgaria langsung mendatangkan peralatan penyulingan moderen pada zaman itu juga khusus untuk Indonesia.

Rombongan akan melihat jelas sisa bangunan sejarah itu dari gedung pembibitan, penyulingan, laboratorium, produksi sampai kebun tanaman penghasil minyak atsiri. Komplek pabrik itu mangkrak sejak peralihan orde lama ke orde baru.

Guide sedang menjelaskan proses penyulingan minyak atsiri

Komplek itu kini menjelma menjadi destinasi wisata edukasi yang menyenangkan, kedepannya akan dibuat sejauh Museum Atsiri yang menempati salah satu gedung bersejarah di situ. Luas komplek Rumah Atsiri Indonesia seluas 3 hektaran.

Pengunjung akan dibawa mengelilingi kebun tanaman atsiri, seperti kebun sereh (lemon grass), lavender, kayu putih, cendana, mint, marigold, dan aneka tanaman herbal yang mengandung atsiri. Ada juga rumah kaca yang ditanami aneka jenis tanaman atsiri.

Perkebunan tanaman atsiri

Puas menyusuri perkebunan atsiri, untuk melepas lelah bisa langsung menyambangi resto dan kafe disitu. Tempatnya cozy dan nyaman untuk nongkrong dan menikmati suasana udara pegunungan yang sejuk.

Ada juga lokasi meeting room dan penginapan berupa camp ground, kedepan camp ground akan disandingkan dengan play ground berupa out Bond. Rumah Atsiri Indonesia beroperasi sejak Mei 2018, dan terus dilakukan penambahan fasilitas dan kelengkapannya sampai akhir 2019.

Rumah kaca atau green house pembibitan tanaman atsiri

Jangan lupa, di sini juga ada tempat menjual produk turunan atsiri seperti minyak telon, kayu putih, minyak esensial, aroma theraphy, dan lainnya.

Menjelang sore hari, rombongan dibawa menuju destinasi berupa makam Astana Giri Bangun, komplek pemakaman keluarga besar Presiden RI ke dua Soeharto dan keluarga besar Ibu Tien Soeharto.

Akses masuk komplek makam Astana Giri Bangun

Menjadi pengalaman bersejarah bagi rombongan Jawa Tengah On The Spot 2019, lantaran waktu yang sudah melewati jam berkunjung namun diperkenankan untuk berziarah dan mendoakan mendiang Presiden Soeharto dan keluarga besarnya.

Komplek Astana Giri Bangun sangat asri, banyak pohon rindang di sepanjang jalan menuju komplek. Halaman dan jalannya bersih terawat. Ada sekitar 18 makam berada diluar area makam utama, dan lima makam di dalam.

Makam Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto

Lima makam itu, adalah makam Presiden Soeharto bersebelahan dengan makam Ibu Tien, lalu makam kedua kedua orang tua dan adik dari Ibu Tien Soeharto.

Di dalam komplek makam, pengunjung dipersilakan membaca doa dan mendoakan mendiang. Suasana penuh sakral sangat terasa di dalam Astana Giri Bangun. Semua harus mematuhi peraturan saat ada di dalam komplek makam itu.

Nah, bagi wisatawan yang ingin mengeksplorasi dataran tinggi Karanganyar. Empat destinasi itu cukup untuk bisa dijelajah selama satu hari. Jika masih cukup waktu bisa berkunjung ke lokasi lain seperti Candi Sukuh, kebun teh Kemuning, Cemoro Kandang, Cemoro Sewu, atau ke Grojogan Sewu di kaki Gunung Lawu juga. (win)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.