Libatkan Tukang Becak Jadi Lokal Guide Wisatawan Di Kota Lama Semarang

Diawali Lomba Membatik Becak

0 135

SEMARANG, genrasipiknik.com – Cara unik dimiliki oleh penggiat Kota Lama Semarang dalam mempersiapkan diri menjadi kota warisan pusaka dunia (world heritage) dari UNESCO. Para tukang becak akan dilibatkan sebagai lokal guide para wisatawan nantinya.

“Konsep kota pusaka dunia UNESCO itu living heritage, jadi harus ada kehidupan nyata yang melibatkan masyarakat sekitar dalam berkebudayaan,” kata Agus S. Winarto, dari Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang, Minggu (20/5/2018).

Kawasan yang kerap disebut little Netherland itu, menurut Agus, selain gedung tua diaktifkan kembali juga bagaiman kedepannya antara kebudayaan dan masyarakat sekitar berdampingan saling melengkapi.

“Seperti di old town Melaka Malaysia itu hidup semua, jadi di Kota Lama juga nanti konsep seperti itu,” ujarnya.

Agus yang juga pemilik gedung tua Monod Huis dari peninggalan Raja Gula Asia Oei Tiong Ham ini mencoba melibatkan masyarakat sekitar yakni para tukang becak. Gedung dua tingkat yang mangkrak itu kini dirubah jadi tempat workshop batik nusantara.

“Gedung ini akan hidup dengan pusat kegiatan workshop batik, tapi kami juga harus berpikir agar lebih hidup masyarakat perlu dilibatkan. Salah satunya para tukang becak,” jelasnya.

Dia mengupayakan pelatihan para tukang becak menjadi lokal guide wisatawan. Dilatih untuk tampil bisa bercerita terkait Kota Lama baik sejarahnya, gedungnya maupun untuk diajak berkeliling di 116 gedung tua.

“Sebagai awalan kita sediakan 13 becak untuk di lukis batik, dan akan kita hibahkan. Total ada 29 becak yang dilukis,” katanya.

Oleh Agus, membatik becak itu sengaja dilombakan, sebanyak 68 peserta baik kelompok maupun perorangan mulai membatik becak dari pukul 15.00 – 17.00 WIB di gang tua Jalan Kepodang depan gedung Monod Huis.

Beragam lukisan batik mulai dari corak batik khas Semarangan, gambar gedung Lawang Sewu sampai lukis batik mural. Peserta tak hanya dari kota Semarang ada juga dari Demak, Kendal, sampai Jogjakarta.

“Minimal mereka punya modal becak yang kita hibahkan untuk mengais pendapatan di Kota Lama. Perlahan nanti mereka akan jadi lokal guide sehingga mereka benar-benar terlibat dalam proses living heritage di Kota Lama Semarang ini,” tukasnya. (win)

You might also like More from author

Leave A Reply

Your email address will not be published.